![]() |
IST |
"Hidup Pak Sarwo,
hidup Pak Sarwo!"
M. Yusuf (80), masih
mengingat bagaimana rakyat mengelu-elukan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo saat
memasuki Jawa Tengah. Kala itu Sarwo memimpin Resimen Para Komando Angkatan
Darat (RPKAD) membasmi kekuatan komunis di sana.
Sosok perwira dengan baret
merah dan seragam loreng darah mengalir, sebutan loreng khas RPKAD, itu sangat
populer di mata masyarakat.
"Seingat saya di Jawa
Tengah saat operasi, nama Pak Sarwo lebih terkenal daripada Pak Harto,"
kata seorang pensiunan prajurit.
Politikus PPP Suharso
Monoarfa, mengaku termasuk yang terpesona oleh sosok Sarwo Edhie saat itu.
"Dulu waktu di
Malang, usai penumpasan G30S/PKI, saya lihat Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo.
Gagah sekali," kata mantan menteri perumahan rakyat era SBY itu.
Tanpa Sarwo Edhie Wibowo
mungkin tak semulus ini Soeharto membangun Orde Baru. Sarwo sangat berjasa di
hari-hari paling menentukan selepas G30S.
Tanggal 1 Oktober 1965, di
saat belum jelas siapa kawan dan siapa lawan, RPKAD jadi satu-satunya pasukan
yang bisa diandalkan Mayjen Soeharto. Mereka diberi tugas membebaskan RRI dari
tangan pasukan komunis dan menguasai Halim.
Sarwo Edhie dan pasukannya
pula yang mencari dan menemukan lubang tempat para pahlawan revolusi berada di
Lubang Buaya. Beruntung mereka mendapat bantuan dari agen polisi Sukitman.
Seorang polisi yang kebetulan ikut diculik gerombolan Letkol Untung tapi tak
dieksekusi.
Setelah kekuatan PKI di
Jakarta dibereskan, Sarwo Edhie dan pasukannya bergerak ke Jawa Tengah. Tanggal
19 Oktober 1965, dia sampai di Semarang.
Saat itu kekuatan PKI di
Jawa Tengah masih kuat. Massa PKI dan pendukungnya masih berani melakukan
perlawanan. Di berbagai kota, Sarwo selalu menggelorakan semangat rakyat untuk
bergerak melawan PKI.
"Jangan berikan leher
kalian secara gratis pada PKI. Kalian lawan PKI. Jika kalian takut, ABRI berada
di belakang kalian. Jika kalian merasa tidak mampu, ABRI bersedia
melatih," kata Sarwo disambut sorak sorai massa.
Ucapan Sarwo Edhie
benar-benar dilakukan. RPKAD melatih pemuda-pemuda maupun aktivis ormas
antikomunis. Rakyat ikut bangkit melawan PKI.
Merekalah yang kelak
menjadi jagal bagi para anggota PKI, atau simpatisan, atau orang yang dituding
sebagai PKI.
Saat Sarwo kembali ke
Jakarta, dia merebut hati pelajar dan mahasiswa antikomunis. Sarwo pula memberi
jaminan keamanan bagi para aktivis mahasiswa yang berdemo. Pasukan elite baret
merah menyamar menjadi orang sipil untuk mengawal para mahasiswa. Para preman
bayaran yang akan menyerang mahasiswa pun tak berani bergerak.
"Pak Sarwo sangat
dekat dengan mahasiswa. Banyak mahasiswa menemui Pak Sarwo di Cijantung (markas
RPKAD). Pak Sarwo juga perintahkan lindungi adik-adik mahasiswa ini," kata
Maman (82), mantan anak buah Sarwo Edhie.
Berita soal Sarwo nyaris
muncul setiap hari di koran. Sebagian besar berisi pujian atas prestasinya
menumpas PKI.
Namun kepopuleran Sarwo
rupanya tak disukai sang atasan. Konon tak boleh ada matahari kembar yang
membayangi Jenderal Soeharto. Saat karirnya sedang sangat cemerlang, mulai ada
upaya untuk membuangnya.
Betapa terkejutnya Sarwo
saat mendengar desas-desus dia akan dijadikan duta besar di Rusia. Semua orang
tahu Sarwo adalah penumpas komunis. Kini dia diceburkan di negara yang berpaham
komunis. Ini seperti sebuah ledekan buat dirinya.
Ani Yudhoyono menceritakan
ayahnya sempat terpukul saat mendengar hal itu. Dia melihat Sarwo banyak
melamun di depan rumah.
"Suatu hari aku
sempat mendengar Papi bicara pada ibu 'kalau aku memang mau dibunuh, bunuh
saja. Tapi jangan membunuh aku dengan cara seperti ini'," kata Ani
menirukan sang ayah dalam buku Kepak Sayap Putri Prajurit.
Sarwo akhirnya memang tak
jadi dijadikan duta besar di Moskow. Namun dia tak pernah mencapai posisi
puncak sebagai seorang militer.
Firasat akan dibuang
sebenarnya sudah dirasakan Sarwo. Saat menjadi Panglima di Irian, Sarwo
berkisah pada Jenderal Hoegeng, yakin tak akan lama lagi dirinya akan dicopot
Soeharto.
Soeharto mendengar
desas-desus Sarwo Edhie mau menggalang kekuatan untuk mendongkel Soeharto.
"Padahal saya tak
melakukan apa-apa, dan tak merencanakan apa-apa," kata Sarwo Edhie pada
Hoegeng dengan nada sedih.
Soeharto kemudian mengirim
Sarwo menjadi Duta Besar di Korea Selatan dan akhirnya memarkir sang jenderal
menjadi Kepala BP7 yang mengurusi ceramah dan propaganda soal Orde Baru dan
Pancasila. Sungguh bukan tempat yang cocok untuk seorang perwira militer dengan
pengalaman tempur seperti Sarwo.
Meminjam istilah wartawan
senior Julius Pour, Sarwo Edhie Wibowo ibarat cerita wayang. Dimasukan kembali
ke kotaknya setelah lakonnya berakhir. Sarwo tak sendiri, sejumlah jenderal
pembangun Orde Baru yang lain merasakan hal serupa. Dibuang sang dalang setelah
lakon mereka selesai.[Merdeka.com]